Home / Blog / Klaten, Kasongan, Plered: Tiga Wajah Gerabah Indonesia yang Lahir dari Jalan Berbeda

Klaten, Kasongan, Plered: Tiga Wajah Gerabah Indonesia yang Lahir dari Jalan Berbeda

Di Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, suara kayu dan tali beradu dengan gerakan kaki seorang pengrajin. Di depannya terdapat gumpalan tanah liat yang perlahan berubah menjadi mangkuk. Tidak ada roda listrik yang berputar cepat. Alat putarnya justru dipasang dalam posisi miring, sementara pengrajin duduk menyamping dan menggerakkannya dengan kaki. Dalam teknik gerabah Klaten itu dikenal sebagai putaran miring.

Bagi orang yang baru pertama melihatnya, posisi tersebut mungkin tampak tidak biasa. Tetapi bagi masyarakat Melikan, putaran miring merupakan bagian dari pengetahuan membuat gerabah yang diwariskan antargenerasi. Pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2022 melalui SK Nomor 414/P/2022 dengan nama Putaran Miring Gerabah Melikan.

Pada 2025, Gerabah Desa Melikan kembali mendapat pengakuan ketika meraih Juara 1 kategori Cinderamata dalam Anugerah Pesona Indonesia (API) Award 2025. Namun, kisah gerabah Indonesia tidak berhenti di Klaten.

Di Bantul terdapat Kasongan, sebuah kawasan yang berkembang menjadi salah satu pusat kerajinan gerabah paling dikenal di Indonesia. Sementara di Jawa Barat, Plered di Purwakarta tumbuh melalui perjalanan yang berbeda, dari produksi benda rumah tangga hingga berkembang menjadi sentra keramik yang menembus pasar ekspor.

Ketiganya sama-sama berangkat dari tanah liat. Tetapi sejarah, teknik, lingkungan sosial, dan arah perkembangannya tidak sama. Di situlah menariknya membaca sentra gerabah Klaten, Kasongan, dan Plered secara berdampingan.

Klaten — Ketika Gerabah Menyimpan Cerita dari Melikan

Jika perjalanan gerabah Klaten ditarik ke masa lalu, nama yang sering muncul adalah Sunan Pandanaran, yang juga dikenal sebagai Sunan Tembayat.

Kisah mengenai hubungan antara tradisi gerabah Melikan dan Sunan Pandanaran hidup dalam penuturan masyarakat serta berbagai sumber pariwisata dan kebudayaan. Badan Otorita Borobudur menyebut sentra gerabah Bayat berpusat di Desa Melikan, Kecamatan Wedi, dan mengaitkan perkembangan tradisi tersebut dengan Sunan Pandanaran.

Karena itu, hubungan antara Melikan dan kawasan Bayat juga sering membuat orang menyebut produk tersebut sebagai gerabah Bayat. Tetapi yang membuat Melikan benar-benar mudah dikenali bukan hanya kisah sejarahnya. Yang paling menonjol adalah cara pengrajin bekerja.

Putaran miring yang lahir dari kebutuhan sehari-hari

Alat putar pada umumnya bekerja dalam posisi tegak. Di Melikan, meja putar tradisional dibuat miring sehingga pengrajin dapat bekerja dengan posisi duduk menyamping.

Menurut penjelasan yang dihimpun dari pengrajin Melikan, teknik ini berkaitan dengan kondisi perempuan pengrajin pada masa lalu yang mengenakan jarik atau kebaya ketika bekerja. Posisi miring memungkinkan mereka membuat gerabah tanpa harus duduk mengangkang. Karena itu, teknik tersebut juga dipahami sebagai bentuk penghormatan terhadap perempuan pengrajin.

Menariknya, fungsi tersebut tidak hilang meskipun cara berpakaian masyarakat telah berubah. Putaran miring tetap digunakan. Seorang pengrajin yang ditemui detikJateng pada 2025 menjelaskan bahwa alat tersebut masih digunakan untuk membuat produk berukuran kecil seperti mangkuk dan kendi kecil.

Inilah salah satu karakter penting tradisi gerabah: sebuah teknologi sederhana dapat bertahan bukan karena bentuknya kuno, tetapi karena pengetahuan di baliknya terus diwariskan.

Di Melikan, kemiringan alat bukan sekadar teknik produksi; ia menjadi bagian dari cerita sosial yang melekat pada gerabahnya.

Dari tanah liat menjadi warisan budaya

Pemerintah Indonesia kemudian memberikan pengakuan formal terhadap tradisi tersebut. Pada 21 Oktober 2022, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi menetapkan Putaran Miring Gerabah Melikan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Dalam data resmi kebudayaan, karya budaya ini masuk domain Kemahiran dan Kerajinan Tradisional dan berasal dari Kabupaten Klaten.

Melikan juga berkembang sebagai desa wisata berbasis gerabah. Portal Jadesta Kementerian Pariwisata mencatat Desa Melikan memperoleh SK sebagai desa wisata pada 2020 dan menawarkan atraksi pembuatan gerabah dengan teknik putaran miring maupun teknik lainnya.

Perkembangannya kemudian memasuki babak baru. Pada November 2025, Gerabah Melikan memenangkan kategori Cinderamata dalam API Award 2025. Pemerintah Kabupaten Klaten menyebut kemenangan tersebut berkaitan dengan ciri khas teknik putaran miring yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Jadi, ketika orang berbicara tentang sentra gerabah Klaten, yang muncul bukan hanya produk berupa kendi, mangkuk, celengan, atau wadah. Ada sebuah pengetahuan tradisional yang ikut berada di dalamnya.

Kasongan — Gerabah yang Tumbuh dari Tanah, Perubahan Sosial, dan Kreativitas

Bergerak ke arah Yogyakarta, cerita gerabah berubah. Kasongan berada di Kalurahan Bangunjiwo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul. Kawasan ini kemudian berkembang menjadi sentra gerabah yang sangat dikenal, lengkap dengan showroom, bengkel produksi, dan aktivitas wisata.

Tetapi asal-usulnya tidak sesederhana sebuah industri yang sengaja dibangun sejak awal. Ada beberapa cerita mengenai bagaimana gerabah Kasongan berkembang.

Kisah kuda Belanda yang menjadi cerita asal-usul

Salah satu cerita yang paling sering muncul adalah kisah seekor kuda milik pihak Belanda yang mati di sawah seorang warga. Pemilik tanah kemudian takut akan mendapatkan hukuman sehingga melepaskan hak atas tanahnya. Warga lain disebut mengikuti langkah tersebut.

Tanah yang tidak lagi digunakan untuk pertanian kemudian mendorong masyarakat mencari pekerjaan lain, termasuk mengolah tanah liat menjadi perlengkapan dapur dan mainan. Kisah ini penting, tetapi perlu ditempatkan secara tepat.

Ia merupakan cerita lokal atau legenda yang hidup dalam narasi asal-usul Kasongan, bukan kronologi sejarah yang seluruh detailnya telah dibuktikan secara dokumenter. Portal Indonesia Travel juga secara eksplisit menyebutnya sebagai kisah lokal mengenai asal-usul Kasongan.

Ada pula versi sejarah yang mengaitkan perkembangan gerabah Kasongan dengan Kyai Guru Abdul Raup atau Ngabdul Raupi, yang disebut sebagai ulama sekaligus tokoh yang berkaitan dengan perjuangan Pangeran Diponegoro pada masa Perang Jawa.

Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum menyebut perkembangan gerabah Kasongan dimulai sekitar 1800 dan mengaitkannya dengan Kyai Guru Abdul Raup. Dua narasi tersebut tidak harus dipaksa menjadi satu cerita yang sama.

Justru keberadaan berbagai versi menunjukkan bahwa sejarah kerajinan tradisional sering hidup melalui arsip, penelitian, dan ingatan masyarakat secara bersamaan.

Dari benda dapur menuju karya kriya

Pada masa awal, gerabah Kasongan banyak berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari. Kuali, peralatan dapur, celengan, dan berbagai benda rumah tangga menjadi bagian dari produksinya. Kemudian terjadi perubahan besar. Gerabah tidak lagi hanya dibuat untuk digunakan. Ia mulai diperlakukan sebagai benda seni dan dekorasi.

Perubahan tersebut semakin kuat ketika seniman seperti Sapto Hudoyo dan kemudian generasi perajin serta akademisi ikut mendorong eksplorasi bentuk. Pemerintah Kabupaten Bantul mencatat Kasongan berkembang menjadi sentra gerabah yang kemudian memiliki karakter kriya yang jauh lebih beragam.

Salah satu bentuk yang sangat dikenal adalah Jaran Ukir Kasongan. Menurut Pemerintah Kabupaten Bantul, Jaran Ukir memiliki hubungan dengan sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro dan mempunyai karakter teknik dekorasi yang khas, dengan warna terakota sebagai salah satu identitas kuat kriya tradisional Kasongan.

Dari sinilah wajah Kasongan menjadi berbeda dari Melikan. Jika Melikan sangat mudah dikenali dari teknik putaran miring, Kasongan berkembang kuat melalui eksplorasi bentuk, dekorasi, dan kriya.

Plered — Dari Peralatan Rumah Tangga hingga Pasar Internasional

Sekarang perjalanan bergerak lebih jauh ke barat, menuju Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Di Plered, tanah liat memiliki cerita yang berbeda lagi.

Kawasan sentra keramik Plered mencakup beberapa wilayah produksi, termasuk Desa Anjun, Citeko, dan Pamoyanan. Pemerintah Kabupaten Purwakarta mencatat bahwa pada 1904 telah terdapat produksi gerabah kasar untuk kebutuhan rumah tangga seperti tempayan, periuk, dan paso. Dari titik inilah perjalanan modern Plered mulai terlihat lebih jelas.

Mini-timeline Plered

1904 — Gerabah rumah tangga

Produksi gerabah kasar untuk kebutuhan rumah tangga telah tercatat di Plered. Nama beberapa pengrajin awal yang disebut dalam catatan daerah antara lain Ki Dasjan, Sarkun, Asli, dan Entas Wareya.

1935 — Pabrik Hendrik De Boa

Pada 1935, seorang warga Belanda bernama Hendrik De Boa mendirikan pabrik gerabah di sekitar Kampung Warung Kandang. Kehadiran fasilitas tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan industri kerajinan Plered.

1950 — Periode kelembagaan dan pengembangan

Pada 1950, Bung Hatta disebut meresmikan Induk Koperasi Gerabah/Keramik di Purwakarta. Pada periode ini terdapat pula bantuan mesin dari Jerman yang ikut mendukung pengembangan produksi.

1980-an — Bentuk dan pasar berkembang

Plered kemudian memasuki periode pengembangan produk yang lebih luas. Gerabah tidak hanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga berkembang menjadi produk dekorasi dan fungsi.

1986 — Pasar Belanda

Catatan mengenai perkembangan Plered menyebut ekspor ke Belanda mulai berlangsung pada 1986. Salah satu sumber penelitian Kemendikbud mencatat bahwa pada periode tersebut permintaan dari Belanda bahkan dipenuhi melalui kerja sama beberapa pengrajin.

Perjalanan Plered menunjukkan sesuatu yang berbeda dari Melikan. Di sini, sejarah gerabah kemudian bertemu dengan kelembagaan, teknologi, pengembangan produksi, dan pasar ekspor.

Pemerintah Kabupaten Purwakarta saat ini juga masih mempertahankan fungsi pengembangan melalui UPTD Sentra Pengembangan Keramik Plered. Dari 16 desa di Kecamatan Plered, pemerintah daerah mencatat 10 desa menjadi sentra produksi keramik.

Tiga Sentra, Tiga Cara Menjadi Besar

Jika ketiganya ditempatkan berdampingan, perbedaannya menjadi lebih mudah terlihat.

AspekKlaten / MelikanKasongan / BantulPlered / Purwakarta
Lokasi utamaDesa Melikan, WediBangunjiwo, KasihanAnjun dan kawasan Plered
Akar ceritaTradisi turun-temurun yang dikaitkan dengan sejarah Bayat dan Sunan PandanaranTradisi lokal dengan beberapa versi asal-usul, termasuk kisah kolonial dan Kyai Guru Abdul RaupPerkembangan industri gerabah modern sejak awal abad ke-20
Ciri yang paling dikenalTeknik putaran miringDekorasi, ukir-tempel, bentuk kriya dan terakotaProduksi gerabah/keramik, pengembangan teknologi dan pasar
PengakuanWBTB Indonesia 2022Sentra kriya dan wisata gerabah BantulSentra pengembangan keramik Purwakarta
Perkembangan modernWisata edukasi dan pelestarian teknikSeni, dekorasi, pariwisata dan pasar internasionalIndustri kerajinan, pengembangan teknologi dan ekspor
Identitas utamaTeknikKriya dan kreativitas bentukProduksi dan pengembangan industri

Tabel ini tidak menunjukkan bahwa salah satu sentra lebih unggul daripada yang lain. Justru sebaliknya.

Ketiganya memperlihatkan bahwa satu material dapat melahirkan tradisi yang berbeda ketika bertemu dengan sejarah masyarakat yang berbeda.

Tanah liatnya mungkin sama-sama berasal dari bumi. Tetapi pengetahuan manusia di atasnya yang membuat karakter setiap daerah menjadi berbeda.

Dari Putaran Miring ke Produk Gerabah Modern

Ada satu hal yang sering luput ketika orang melihat produk gerabah masa kini. Gerabah yang dijual di showroom modern tidak selalu dibuat dengan teknik tradisional yang sama seperti produk warisan budaya. Ini penting.

Tidak semua gerabah dari Klaten dibuat dengan teknik putaran miring Melikan.

Teknik putaran miring merupakan tradisi khusus yang berada di Melikan. Sementara industri gerabah dan kerajinan tanah liat di wilayah Klaten secara lebih luas dapat menggunakan teknik pembentukan yang berbeda sesuai bentuk, ukuran, dan kebutuhan produk.

Portal Desa Wisata Melikan sendiri bahkan mencatat adanya atraksi dengan teknik putaran miring, putaran tegak, mencetak, dan menempel. Perbedaan ini justru memperlihatkan bahwa tradisi gerabah bukan sesuatu yang berhenti pada satu bentuk. Ia berkembang.

Pengetahuan lama dapat bertahan, sementara teknik lain digunakan untuk menjawab kebutuhan produk masa kini. Bagi pembaca yang ingin memahami lebih jauh bagaimana tanah liat diproses menjadi gerabah, artikel proses pembuatan gerabah dari tanah liat hingga menjadi produk dapat menjadi lanjutan yang relevan.

Begitu pula dengan pembahasan mengenai cara membuat gerabah yang menjelaskan tahapan pembentukan secara lebih mendalam.

Mengapa Perbedaan Ini Penting bagi Produk Gerabah Hari Ini?

Ketika seseorang membeli sebuah pot, vas, kendi, mangkuk, atau guci gerabah, yang terlihat biasanya hanya produk akhirnya. Padahal di belakang benda tersebut terdapat banyak keputusan: jenis tanah liat, teknik pembentukan, proses pengeringan, pembakaran, finishing, hingga cara produk tersebut dipasarkan.

Itulah sebabnya pembahasan mengenai bahan dasar gerabah menjadi penting. Material menentukan banyak hal dalam karakter akhir sebuah produk. Begitu pula teknik.

Produk yang dibuat untuk dekorasi tidak selalu membutuhkan spesifikasi yang sama dengan produk yang digunakan untuk fungsi sehari-hari. Karena itu, ketika membicarakan gerabah Klaten, sebaiknya kita tidak menyederhanakannya menjadi satu bentuk atau satu teknik saja.

Melikan mempunyai warisan putaran miring. Kasongan mempunyai sejarah panjang dalam pengembangan kriya dan dekorasi. Plered mempunyai perjalanan kuat menuju pengembangan industri dan pasar ekspor. Ketiganya adalah bagian dari peta besar gerabah Indonesia.

Di Mana Posisi Darma Semesta dalam Cerita Gerabah Klaten?

Di tengah perubahan tersebut, muncul generasi usaha yang membawa produk tanah liat Klaten ke kebutuhan pasar yang lebih modern. Darma Semesta berbasis di Klaten dan bergerak dalam pengembangan serta perdagangan gerabah untuk berbagai kebutuhan, mulai dari dekorasi, interior, hospitality, hingga produk custom.

Namun ada satu hal yang perlu ditegaskan. Darma Semesta tidak perlu mengklaim bahwa seluruh produknya dibuat menggunakan teknik putaran miring Melikan. Teknik tersebut merupakan tradisi khusus yang mempunyai locus budaya di Desa Melikan.

Posisi Darma Semesta lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem gerabah Klaten yang meneruskan penggunaan material tanah liat dan keterampilan pengrajin untuk kebutuhan pasar masa kini.

Dengan pendekatan tersebut, warisan lokal tidak harus dibekukan dalam bentuk lama. Ia dapat terus hidup melalui produk baru. Pot gerabah dapat masuk ke interior modern. Vas dapat digunakan dalam hotel dan restoran. Guci dapat menjadi elemen arsitektur.

Tableware dapat dikembangkan untuk kebutuhan hospitality. Dan produk custom dapat dibuat mengikuti kebutuhan konsumen. Untuk melihat bagaimana perjalanan gerabah tradisional dan modern dapat berjalan berdampingan, pembaca juga dapat melihat artikel gerabah tradisional vs gerabah modern. Sementara pembahasan mengenai karakter material dapat dilanjutkan melalui artikel perbedaan gerabah dan keramik.

Tiga Pertanyaan yang Sering Muncul Saat Membahas Gerabah Klaten

Apa yang membuat gerabah Klaten berbeda dari Kasongan dan Plered?

Ciri yang paling mudah membedakan gerabah Melikan di Klaten adalah teknik putaran miring yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2022. Kasongan lebih dikenal dengan perkembangan kriya, dekorasi, dan bentuk seperti Jaran Ukir, sedangkan Plered memiliki sejarah kuat dalam pengembangan produksi keramik dan pasar ekspor.

Apakah gerabah Klaten juga memiliki hubungan dengan pasar internasional?

Ya. Sumber mengenai Melikan mencatat produk gerabahnya telah menjangkau pembeli luar negeri, sementara perkembangan terbaru juga memperlihatkan penguatan posisi Melikan sebagai produk wisata dan cinderamata. Namun, skala dan pola perdagangan setiap sentra berbeda sehingga tidak tepat menyamakan model ekspor Melikan dengan sejarah ekspor Plered.

Di mana bisa melihat langsung proses gerabah putaran miring Klaten?

Lokasi utama tradisi tersebut berada di Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, khususnya kawasan pengrajin di Dukuh Pagerjurang dan Sayangan. Desa Melikan saat ini juga dikembangkan sebagai desa wisata dengan atraksi pembuatan gerabah menggunakan teknik putaran miring.

Ketika Sebuah Teknik Tidak Lagi Sekadar Teknik

Kembali ke Melikan. Seorang pengrajin duduk di atas bangku kecil. Kakinya menggerakkan alat. Tangannya membentuk tanah. Gerakannya terlihat sederhana karena dilakukan berulang kali sejak bertahun-tahun. Tetapi di dalam gerakan tersebut terdapat pengetahuan yang tidak bisa diperoleh hanya dengan membaca buku.

Ada cara memilih tanah. Kemudian cara mengatur tekanan tangan. Ada juga cara membaca kelembapan bahan. Selain itu ada cara mengetahui kapan bentuk sudah cukup kuat untuk dilepas dari putaran. Dan ada cerita sosial yang membuat alat tersebut memiliki makna lebih jauh daripada sekadar mesin sederhana.

Itulah sebabnya gerabah Klaten layak dibicarakan bukan hanya sebagai produk. Ia adalah bagian dari sejarah hidup masyarakat. Kasongan menunjukkan bagaimana kerajinan dapat tumbuh menjadi dunia kriya dan pariwisata. Plered menunjukkan bagaimana tradisi tanah liat dapat berkembang bersama teknologi, kelembagaan, dan perdagangan.

Melikan menunjukkan bagaimana sebuah teknik sederhana dapat bertahan lintas generasi hingga akhirnya mendapat pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Dan di Klaten hari ini, perjalanan itu belum selesai.

Darma Semesta hadir di tengah ekosistem tersebut dengan membawa gerabah tanah liat ke kebutuhan masa kini—tanpa harus memutus hubungan dengan cerita panjang yang membuat material sederhana itu memiliki identitas.

Karena pada akhirnya, gerabah bukan hanya tentang apa yang dibuat dari tanah liat. Ia juga tentang siapa yang membuatnya, dari mana tradisinya berasal, dan bagaimana pengetahuan itu diteruskan ke generasi berikutnya.

Scroll to Top